Listrik dari “Fuel Cell”

Kliping

Ilmuwan Indonesia berhasil mengembangkan pembangkit fuel cell sebagai antisipasi krisis energi. Selain untuk menjamin ketersediaan listrik, aplikasi teknologi sel tunam merupakan bentuk komitmen terhadap lingkungan.

Tak dimungkiri bila energi listrik telah menjadi kebutuhan yang harus terpenuhi dalam kehidupan sehari-hari setiap orang, mulai dari sekadar untuk penerangan hingga “menghidupkan” perangkat elektronik guna menunjang produktivitas. Lebih dari itu, listrik memiliki peran penting bagi industri sebagai sumber energi utama untuk menggerakkan roda perekonomian.

Sayangnya, hingga sekarang, antara kebutuhan dan kapasitas listrik di Indonesia belum ideal. Buktinya, dalam beberapa tahun terakhir ini, masih sering terjadi pemadaman listrik bergilir di sejumlah daerah. Kondisi itu barangkali masih dianggap lumrah bagi sebagian orang, tapi bagi industri, pemadaman listrik berarti merugi karena tidak dapat berproduksi.

Menurut anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Tumiran, jika Indonesia ingin mengandalkan kekuatan industri untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, idealnya kapasitas listrik sebesar 0,6–1 kW per kapita. Sementara kapasitas listrik di Indonesia hanya 50 gigawatt untuk 240 juta orang. Artinya, kapasitas listrik negeri ini masih berkisar 0,2 kilowatt (kW) per kapita.

“Kalau kita mau mengandalkan kekuatan industri, butuh 0,6–1 kW per kapita. Kita sekarang baru 0,2 kW per kapita,” tandas Tumiran dalam diskusi bertema “Menunggu Keberanian Pemerintah Mengatasi Krisis Energi” di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Permasalahan kelistrikan tersebut, tambah Tumiran, akan semakin pelik dalam dua tahun ke depan apabila tidak ada penambahan pembangkit baru. Asumsinya, saat ini pertumbuhan listrik di Jawa mencapai 10 persen per tahun, sementara beban puncak (peak) mencapai 24 gigawatt.

Apabila pertumbuhan listrik tidak ada perubahan, butuh tambahan sebesar 2,4 gigawatt per tahun. Sementara itu, sekarang ini, Perusahaan Listrik Negara (PLN) hanya memunyai kapasitas listrik 29 gigawatt.

Jika tidak ada pembangunan pembangkit baru dalam dua tahun ke depan, akan ada tambahan kebutuhan listrik mendekati 5 gigawatt. Dengan kata lain, apabila tidak ada pembangunan pembangkit baru, kapasitas listrik PLN akan mengalami beban puncak.

“Jika dua tahun lagi ada tambahan 5 gigawatt, pembangkit PLN akan kolaps,” kata Tumiran. Oleh karena itu, butuh terobosan baru untuk memenuhi kebutuhan listrik industri maupun rumah tangga di Indonesia.

Antisipasi Krisis Listrik

Sebagai upaya antisipasi krisis listrik, sejumlah industri telekomunikasi di Indonesia telah mengaplikasikan teknologi ramah lingkungan sel tunam (fuel cell), yaitu perangkat elektrokimia yang secara langsung mengubah energi kimia menjadi listrik.

“Sebagian industri telekomunikasi di Indonesia telah menggunakan fuel cell sebagai back up listrik apabila mendadak ada pemadaman dari PLN,” ungkap Ketua Indonesia Association Fuel Cell and Hydrogen Energy (INAFHE), Eniya Listiani Dewi, di Jakarta, belum lama ini.

Selain untuk menjamin ketersediaan listrik, dari hasil penulusuran Eni, sejumlah perusahaan telekomunikasi mengaplikasikan teknologi fuel cell menjadi bentuk komitmen peduli lingkungan. Maklum, fuel cell berbahan bakar hidrogen tidak menghasilkan partikel polusi bagi lingkungan.

Berbeda ketika perusahaan masih menggunakan mesin diesel berbahan bakar minyak (BBM) yang berdampak pada pencemaran udara (CO, NO, dan CO2). Seperti diketahui, bukti kuat menunjukkan polusi dari bahan bakar fosil itu menjadi penyebab meningkatnya suhu Bumi (global warming). Pada ujungnya, pemanasan global akan menyebabkan perubahan iklim/cuaca yang tidak menentu dan tiba-tiba.

“Itulah beberapa alasan industri telekomunikasi memilih memasang fuel cell sebagai pengganti mesin genset,” kata perempuan yang merampungkan studi S1 hingga S3 selama 10 tahun (1993–2003) di Jepang itu.

Menurut Eni, komitmen industri telekomunikasi telah ditunjukkan dengan melakukan uji coba 1.000 titik fuel cell sejak 2010 hingga 2014. Pemasangan fuel cell itu paling banyak di Asia Pasifik. “Namun sayangnya, sel tunam yang diaplikasikan itu masih impor dari luar negeri,” kata dia.

Eni memperkirakan harga pembangkit listrik impor itu antara 100 juta–150 juta rupiah. Adapun harga listrik 1 kW dari pembangkit listrik sel tunam berkisar 15 ribu–20 ribu rupiah, jauh lebih mahal dari harga listrik PLN. Walaupun demikian, provider berani membayar mahal asal ketersediaan listrik stabil daripada mereka akan merugi lebih banyak ketika listrik mendadak padam.


Produksi Dalam Negeri

Saran Eni, harga listrik dari pembangkit fuel cell tersebut akan lebih murah bila ada industri dalam negeri yang memproduksinya. Toh, para ilmuwan Indonesia sudah mampu membuat komponen-komponen sel tunam secara mandiri dengan komposisi 80 persen lokal dan 20 persen impor dari Jepang.

“Kita mampu membuat komponen utama fuel cell, seperti membran dan katalis. Komponen-komponen itu sudah ada patennya. Sedangkan, komponen yang masih impor adalah pelapis karbon, yaitu material untuk mendifusi gas,” klaim perempuan yang kini menjabat Direktur Pusat Teknologi Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu.

Secara umum, sistem sel tunam karya anak bangsa itu mirip baterai (accu) biasa, yaitu semua bagian unit baterainya berbentuk padat dan elektrolitnya berupa polimer membran penghantar proton. Dalam suatu proses elektrokimia, terjadi reaksi bahan bakar (seperti gas alam, hidrokarbon, air, alkohol) dan oksidator (oksigen) menjadi tenaga listrik, air, dan panas.

“Dari beberapa pilihan bahan bakar fuel cell, yang paling murah untuk dikonversi menjadi listrik adalah gas alam,” kata peraih Habibie Award 2010 itu. Dengan demikian, ketersediaan gas alam akan menjadi faktor kunci untuk menjamin pasokan listrik yang stabil. agung wredho

Sumber : http://koran-jakarta.com/?22796-listrik-dari-fuel-cell%EF%BF%BD