Kliping

Jakarta, CNN Indonesia — Indonesia dianggap perlu meningkatkan ketahanan energi karena bahan bakar fosil sudah semakin berkurang.

Menyadari pentingnya peningkatan energi, Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) bekerjasama dengan instansi pendidikan Perancis, Universite de Toulouse, menjalin sebuah asosiasi bernama Indonesian Association for Fuel Cell and Hydrogen Energy (INAFHE).

Bertempat di gedung BPPT, Thamrin, Jakarta pada Selasa (14/10), deklarasi INAFHE dihadiri oleh Eniya Listiani selaku direktur Pusat Teknologi Material, Jumain Appe selaku Sekretaris Utama BPPT, Taswando Taryo sebagai kepala deputi bagian teknologi energi nuklir dari Batan, serta empat perwakilan instansi pendidikan Toulouse, Perancis.

Taswando menerangkan, Indonesia dapat memanfaatkan penggunaan energi hidrogen dan nuklir, karena potensi yang dimiliki sangat besar.

“Hidrogen harus terus ditingkatkan penggunaannya agar BBM kita bisa diganti dengan hidrogen itu sendiri,” jelasnya.

Sejauh ini, penggunaan hidrogen memang sudah digunakan di berbagai tempat seperti pabrik pupuk, namun hanya sekadar sebagai bahan pokok kimia.

Sementara pengembangan nuklir sendiri juga diyakini merupakan langkah yang harus mulai diterapkan dari sekarang.

“Indonesia ini krisis energi. Di pulau Jawa hanya 30 persen area yang memiliki energi listrik. Jika nuklir dikembangkan, fungsinya multi,” lanjut Taswando. “Tak hanya sebagai untuk listrik, nuklir bisa menghasilkan temperatur di atas 800 derajat celcius untuk menciptakan hidrogen.”

Jumain juga menambahkan, Indonesia tidak bisa melulu mengandalkan sumber energi konvensional seperti batu bara dan gas alam. Geotermal di Indonesia juga tidak akan mencukupi terus-menerus sehingga energi terbarukan jangka panjang perlu dirancang, setidaknya mulai 2015 mendatang.

“Harus gencar, karena pembangunan reaktor nuklir itu lamanya 10 tahun. Negara seperti Perancis sudah menerapkan ini,” ujar Jumain.

Deklarasi INAFHE di gedung BPPT termasuk ke dalam rangkaian acara seminar bertema Techincal Challenges in the Field of Renewable Energy 2014: Fuel Cell, Hydrogen Technology, and Nuclear Energy.

Diawali dengan penandatangan MoU oleh kepala BPPT, Unggul Priyanto, kemudian disusul oleh beberapa perwakilan yang tergabung dalam asosiasi INAFHE.

Asosiasi INAFHE merangkul beberapa industri seperti Pertamina, LIPI, Batan, BPPT, dan sejumlah instansi pendidikan lokal seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan Institut Teknologi Bandung.

(eno/eno)

Sumber : http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20141014143700-199-6319/indonesia-butuh-energi-nuklir/